3 Langkah Mudah Bisnis Tanpa Modal Dapat Penghasilan Tambahan


Untuk kesempatan kali ini saya telah menemukan salah satu situs anak negeri yang membuka lowongan tentang bisnis online untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk kita semua secaragratis..!!!.
Mau..??? saya juga mau siapa coba yang gak mau sama yang namanya gratisan :D .
nah berikut saya berikan review mua ngambil dan copas langsung dari sumbernya hehehe..
  1. Lengkapi data Anda di form pendaftaran secara lengkap.
    Jangan lupa ISIKAN ID SPONSOR (orang yang mengajak anda) dengan benar.
  2. Setelah mengisi formulir pendaftaran, anda akan mendapatkan SMS yang berisi kode Aktivasi.
  3. Login ke member area dan aktifkan ID anda dengan memasukkan kode aktivasi tersebut.




 Keuntungan menjadi member topdeh.com
  • Biaya Pendaftaran Rp. 0,- alias  G R A T I S alias Gak Bayar.
  • Pola sistem yang mudah & masuk akal. Sampai 20 Level.
  • Dapat replika web untuk pengembangan bisnis anda ( http://www.topdeh.com/?id=ID_Anda )
  • Minimal transfer ke rekening anda hanya Rp. 50.000,- (net)
  • Ga perlu Withdraw, pokok dah tercapai langsung kita kirim hari itu juga, ga perlu nunggu berhari-hari.
Nah lo… berminat gak sama situs diatas..??
atau apakah mungkin masih pikir – pikir dulu..??
ngapain mikir..?? Sudah saatnya kita mencari sebuah perubahan manfaatkan sebuah peluang sebaik – baiknya..
Walaupun saya masih baru daftar di link tersebut tetapi kan tidak masalah kalau kita mencoba..??
Semua Gratis  walau mungkin suatu saat nanti sahabat ingin Upgrade ke premium saya bersyukur , dan berarti sahabat dapat meningkatkan mutu dari usaha sahabat.
saya tidak memaksa walaupun sahabat ingin tanpa menjadi kerabat saya di topdeh.com ini saya tidak keberatan :) .
Yang terpenting adalah kehidupan yang indah itu tidak akan terjadi apabila kita tidak berusaha :) 
Semangat kawan.

Dimohon para sahabat untuk ikut dengan saya mencapai perubahan dan kita akan bersama – sama bekerja sama membangun hidup yang lebih baik dengan jujur apa adanya .
Silahkan klik DI SINI :) .
Atau di topdeh.com


Cara Cepat Menaikkan Pagerank Dengan Mudah

Cara Cepat Menaikkan Pagerank Dengan Mudah


Caranya sangatlah mudah, anda hanya tinggal copy link yang berada di bawah ini dengan syarat anda harus menghapus link pada peringkat 1 dari daftar, lalu pindahkan yang tadinya nomor 2 menjadi nomor 1, nomor 3 menjadi nomor 2, nomor 4 menjadi nomor 3, dst. Kemudian masukan link blog anda sendiri pada urutan paling bawah ( nomor 10). Dan silahkan ajak teman anda untuk mengikuti cara ini serta sebarkan cara ini ke banyak Situs Jejaring Sosial anda.
  1. Raffi Exterminator
  2. Blog.PatasGSM
  3. Blog.PatasHoster
  4. Maulana Hosting
  5. Blog Maulana Cell
  6. PatasGSM
  7. Wayjar’ Blog
  8. Wisata Nusantara Indonesia 23
  9. Blogaul
  10. Share And Give 
    Keterangan:
    Jika anda mampu mengajak lima orang saja untuk mengcopy artikel ini maka jumlah backlink yang akan didapat adalah:

    Posisi 10, jumlah backlink = 1
    Posisi 9, jumlah backlink = 5
    Posisi 8, jumlah backlink = 25
    Posisi 7, jumlah backlink = 125
    Posisi 6, jumlah backlink = 625
    Posisi 5, jumlah backlink = 3,125
    Posisi 4, jumlah backlink =15,625
    Posisi 3, jumlah backlink = 78,125
    Posisi 2, jumlah backlink = 390,625
    Posisi 1, jumlah backlink = 1,953,125
    Dan nama dari alamat blog dapat dimasukan kata kunci yang anda inginkan yang juga dapat menarik perhatian untuk segera diklik. Dari sisi SEO anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung downline mengklik link anda maka anda juga mendapat traffic tambahan.
Pentingnya Pemanduan Bakat Dalam Olahraga

Pentingnya Pemanduan Bakat Dalam Olahraga

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman yang saat ini dialami bangsa Indonesia, ternyata bidang olahraga juga mengikuti perkembangan dan kemajuan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya fasilitas-fasilitas maupun sarana olahraga yang telah tersedia, bangunan-bangunan yang berdiri guna menunjang kegiatan-kegiatan keolahragaan yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, baik di kota maupun di pelosok desa.
Adanya masyarakat yang mayoritas mencintai dan gemar dengan olahraga, juga keinginan dari masyarakat yang ingin melihat prestasi olahraga di Indonesia semakin baik, maka sangat perlu untuk diperhatikan dan ditindak lanjuti oleh pembina maupun pelatih dengan mengupayakan langkah-langkah yang tepat, diantaranya mengadakan pembinaan maupun seleksi untuk pembibitan atlet-atlet muda yang jangka panjangnya memiliki prestasi yang maksimal. Problematika yang selalu menghambat upaya optimalisasi prestasi dalam cabang olahraga salah satunya yaitu terletak pada sulitnya menemukan atlet-atlet muda yang berbakat. Bakat sendiri merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat mendukung dan sangat diperlukan dalam pencapaian prestasi olahraga.
Upaya untuk mendapatkan atlet-atlet berbakat hendaknya dilakukan pemanduan bakat sejak usia muda. Pemanduan bakat tersebut dapat dilakukan pada anak-anak sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut Yusuf Adisasmita dan Aif Syarifudin (1996: 33) menyatakan bahwa “Pemanduan bakat harus diperbanyak dan diperluas, sehingga diperoleh bibit-bibit atlet yang potensial yang harus dibina secara terus menerus dan berencana, agar dapat mencapai prestasi yang tinggi.”
Sebagai langkah maupun upaya yang tepat dalam pemanduan bakat salah satunya melalui bangku sekolah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Saiful Aristanto (1990: 8) yang menyatakan bahwa “Pemain berbakat dapat ditemukan di (1) Sekolah-sekolah, (2) Perkumpulan-perkumpulan olahraga, (3) Organisasi-organisasi pemuda, dan (4) Keluarga.” Dalam hal ini orang-orang yang berkompetensi dalam pemanduan bakat (guru, Pembina, pelatih atau orang tua) harus memiliki kemampuan untuk dapat mengadakan proses melihat dan memperhatikan terhadap bakat olahraga peserta didiknya yang dilakukan secara teliti. Dengan kata lain guru atau pelatih harus mampu untuk mengadakan pemantauan bakat peserta didiknya.
Kemudian perlu diupayakan proses pencarian bakat atau keahlian yang dimiliki peserta didik yang tentunya sesuai dengan karakteristik anak. Sejalan dengan pernyataan tersebut M. Furqon H (2001:1) menerangkan bahwa “Pembinaan olahraga sebaiknya dimulai sejak anak pada usia dini sehingga tidak terjadi keterlambatan dan selalu berkesinambungan, akan tetapi pembinaan tersebut harus mempertimbangkan kondisi anak atau disesuaikan dengan kondisi anak.” Setiap anak atau peserta didik pada dasarnya dapat belajar berbagai bentuk gerakan, akan tetapi tidak semua anak di kemudian hari dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi. Oleh sebab itu di olahraga sangat penting untuk menemukan anak-anak yang sangat berbakat yaitu untuk memilih atlet-atlet pada usia muda, dengan memperhatikan mereka secara terus menerus dan mendorong mereka untuk mencapai tingkatan prestasi yang lebih tinggi.

B.        Rumusan Masalah
  1. Apa definisi Olahraga ?
  2. Apa itu Bakat ?
  3. Apa definisi Pemanduan Bakat ?
  4. Apa tujuan Pemanduan Bakat ?
  5. Apa manfaat Pemanduan Bakat ?
  6. Bagaimana Metode Pemanduan Bakat ?
  7. Mengapa Pemanduan Bakat Penting dalam Olahraga ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.        Definisi Olahraga     
Penjelajahan konsep dan definisi olahraga hingga tuntas tidak akan berhasil diperoleh, karena definisi berkaitan dengan olahraga tersebut mengalami perubahan seiring dengan perubahan sosial dan pengaruh iptek. Tidak mengherankan jika definisi klasik olahraga yang bertumpu pada permainan dan peragaan ketrampilan fisik dengan dukungan dan usaha keras kelompok otot-otot besar semakin sukar dipertahankan. Saat ini muatan teknologi yang menggabungkan otot dan mesin serta temuan ilmiah melahirkan olahraga yang berorientasi teknologi (techno-sport).
Pada tingkat Internasional sekalipun, para ahli dihadapkan dengan masalah dalam perumusan definisi olahraga sehingga dijumpai definisi yang cukup beragam sesuai dengan sudut pandang, disiplin ilmu keolahragaan yang ditekuninya. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Rusli Lutan dan Sumardianto (1999: 4) menyatakan bahwa : ”Memang tidak akan pernah dijumpai definisi yang paling memuaskan dalam istilah olahraga, karena karakteristik olahraga yang kian lama kian kompleks baik ditinjau dari jenis kegiatannya yang semakin beragam, penekanan tujuan yang ingin dicapai maupun konteks lingkungan sosial-budaya tempat pelaksanaannya, dan bahkan sebagai fenomena yang serba kontradiktif. Baik dari sisi modif dan cara pengelolaannya karakteristik dan definisi olahraga itu telah banyak berubah”.
Selanjutnya olahraga itu sendiri pada hakekatnya bersifat netral, namun masyarakatlah yang kemudian membentuk kegiatannya dan memberi arti bagi kegiatan itu. Karena itu seperti di Indonesia sendiri, sesuai dengan fungsi dan tujuannya kita mengenal beberapa bentuk kegiatan olaharaga, seperti (1) Olahraga pendidikan untuk tujuan bersifat mendidik, (2) Olahraga rekreasi untuk tujuan bersifat rekreasi, (3) Olahraga kesehatan untuk tujuan pembinaan kesehatan (4) Olahraga rehabilitasi untuk tujuan rehabilitasi (5) Olahraga kompetitif untuk tujuan mencapai preatasi setinggi-tingginya.

B.        Pengertian Bakat
Bakat merupakan hal yang sangat diperlukan dalam pencapaian prestasi olahraga. Dalam usaha menjadi atlet berprestasi, seseorang harus mutlak memiliki bakat dalam olahraga yang ditekuninya. Dengan pengertian yang lain bahwa tidak ada satupun cabang olahraga yang tidak memerlukan bakat dari pelakunya.
Selanjutnya bakat yang dimiliki seseorang tersebut, masih memerlukan suatu pembinaan maupun pelatihan yang lebih lanjut, jika menghendaki pencapaian prestasi yang maksimal di kemudian hari. Demikian pentingnya bakat dalam pencapaian prestasi olahraga, maka untuk memajukan prestasi olahraga di Indonesia diperlukan atlet-atlet yang berbakat. Berkaitan dengan bakat Saparinah yang dikutip Heru Suranto (1992: 22) menyatakan bahwa “Bakat adalah kemampuan untuk terbentuknya keahlian atau keberhasilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu.” Pendapat lain dikemukakan Yusuf Adisasmita dan Aif Syarifudin (1996: 53) bahwa “Bakat (attitude) diartikan sebagai suatu kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu untuk dikembangkan lebih lanjut dan dilatih agar bakat itu dapat terwujud.”
Berdasarkan dua pendapat di atas menunjukkan bahwa bakat adalah potensi atau kemampuan seseorang yang sifatnya bawaan, lebih khusus lagi terbatas pada hal-hal tertentu. Sedangkan dalam olahraga sendiri, bakat tersebut dapat diartikan berupa tanda-tanda atau dasar-dasar yang dimiliki oleh seseorang yang berupa keterampilan gerak dalam cabang olahraga tertentu untuk dibina dan dikembangkan menjadi atlet yang memiliki potensi tinggi.
Dengan demikian orang dikatakan berbakat artinya dalam dirinya terdapat ciri-ciri yang dapat dikembangkan menuju keberhasilan, yaitu pencapaian prestasi yang lebih tinggi. Selanjutnya ciri-ciri yang terdapat dalam diri seseorang atau individu tersebut perlu dikenali, agar diperoleh calon-calon atlet yang dapat dikembangkan secara maksimal.

C.        Definisi Pemanduan Bakat
            Adalah potensi seseorang untuk berprestasi dalam olahraga tertentu karena dalam dirinya ada ciri-ciri tertentu yang dapat dikembangkan dan kondisi pra penunjang kegiatan. Identifikasi bakat atau upaya pencarian bibit olahragawan merupakan salah satu tugas seorang guru dan pelatih olahraga. Tugas identifikasi bakat pada dasarnya didasarkan pada pemikiran yang bersifat prakiraan mengenai kemungkinan pencapaian prestasi apabila seseorang sejak dini diberi kegiatan belajar dan berlatih olahraga secara serius. Apabila diperkirakan bahwa seseorang anak dimungkinkan untuk meraih prestasi yang tinggi di bidang olahraga di kemudian hari, maka tidak salah apabila sejak dini anak yang bersangkutan diarahkan untuk menekuni kegiatan olahraga. Seperti yang dikemukakan Yusuf Adisasmita & Aip syarifuddin (1996: 54) bahwa ”anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi atau ditemukan oleh orang-orang profesional, dimana anak tersebut memang mempunyai kemampuan yang sangat menonjol, mampu mencapai prestasi tinggi.” Pendapat lain menurut Soegiyono yang dikutip Heru Suranto (2002: 272) menyatakan bahwa ”Pemanduan bakat olahraga merupakan usaha untuk memperkirakan peluang atlet yang berbakat dalam olahraga prestasi, untuk dapat berhasil dalam menjalankan program latihan sehingga mampu mencapai prestasi puncak.
Selanjutnya identifikasi bakat merupakan langkah penting untuk bisa menghasilkan olahragawan yang berprestasi tinggi. Menurut Sugiyanto, Sudjarwo (1991: 316) menyatakan bahwa : “Untuk bisa melakukan identifikasi bakat yang berhasil diperlukan berbagai pengetahuan antara lain mengenai hakekat prestasi setiap cabang olahraga, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi, dan pengetahuan tentang penelitian olahraga.”
Selanjutnya pendapat lain dikemukakan Harsono (1988: 18) bahwa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam identifikasi bakat antara lain:
1.    Melakukan analisis lengkap tentang kondisi fisik dan mental atlet.
2. Melakukan seleksi berdasarkan faktor-faktor determinan utama yang mencakup:
  1. Karakteristik antropometrik seperti tinggi badan kaitannya dengan parameter fisik tertentu.
  2. Beberapa kemampuan fisik seperti kecepatan, daya tahan, koordinasi, maupun kemampuan bermain.
3.    Melakukan evaluasi dan seleksi berdasarkan data-data yang mencakup:
a.       Sikap anak terhadap olahraga.
b.      Partisipasi anak dalam kegiatan olahraga.
c.       Keunggulan dan ciri-ciri prestasi olahraga di lingkungan anak.
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa identifikasi bakat olahraga merupakan suatu upaya pengidentifikasian keberbakatan olahraga dengan mengacu pada kesesuaian potensi dan minat atlet. Identifikasi bakat dalam olahraga sendiri dapat dilakukan dengan tes kemampuan fisik, antropomerik, kemampuan bermain atau bertanding serta mental atau sikap terhadap olahraga.

D.        Tujuan Pemanduan Bakat
Pada dasarnya pengidentifikasian bakat dilakukan pada tingkat anak usia dini. Dengan maksud dan tujuan agar nantinya si anak mampu menunjukkan kesesuaian kondisinya sejak awal dalam menyelesaikan program latihannya. Tujuan Pemanduan bakat yaitu :
a.       Mengidentifikasi calon atlit yang berpotensi.
b.      Memilih jenis olahraga yang sesuai dengan minatnya.
c.       Memperkirakan peluang berhasil dlam pembinaan.
Tujuan identifikasi bakat sendiri menurut Harrt Ed (1982: 26) mengemukakan bahwa: ”Tujuan pemanduan bakat adalah untuk memprediksi suatu derajat yang tinggi tentang kemungkinan apakah calon atlet akan mampu dan berhasil menyelesaikan program latihan dalam olahraga yang ditekuni, agar ia dapat mengukur secara pasti, dalam melakukan tahap latihan selanjutnya”.

E.        Manfaat Pemanduan Bakat
Identifikasi bakat pada anak usia muda sendiri pada dasarnya memiliki dampak dan manfaat. Menurut Bompa (1990: 334), yaitu:
1.      Menurunkan waktu yang diperlukan untuk mencapai prestasi yang tinggi dengan menyeleksi calon atlet yang berbakat dalam olahraga tertentu.
2.      Mengeliminasi volume kerja, energi dan memisahkan bakat yang tinggi bagi pelatih. Keefektifan latihan dapat dicapai terutama bagi calon atlet yang memiliki kemampuan tinggi.
3.      Meningkatkan daya saing dan jumlah atlet dalam mencapai tingkat prestasi tinggi.
4.      Meningkatkan kepercayaan diri atlet, karena perkembangan prestasi, tampak makin drastis dibanding dengan atlet-etlet lain yang memiliki usia sama yang tidak mengalami seleksi.
5.      Secara tidak langsung mempermudah penerapan latihan.


F.         Metode Pemanduan Bakat
            Pengidentifikasian menurut (Bompa, 1990), dapat dilakukan dengan metode alamiah dan metode seleksi ilmiah.
            Seleksi alamiah, adalah seleksi dengan pendekatan secra natural (alamiah), anak-anak usia dini berkembang, kemudian tumbuh menjadi atlet. Dengan seleksi alamiah anak-anak menekuni olahraga tertentu, sebagai akibat pengaruh lingkungan antara lain tradisi olahraga sekolah, keinginan orang tua dan pengaruh teman sebaya. Perkembangan dan kemajuan atlet sangat lambat, karenaseleksi untuk cabang olahraga yang layak dan ideal tidak ada, kurang atau tidak tepat.
            Seleksi Ilmiah, adalah seleksi dengan penerapan ilmiah (IPTEK), untuk memilih anak-anak usia dini yang senang dan gemar berolahraga, kemudian diidentifikasi untuk menjadi atlet. Dengan metode ini, peerkembangan anak usia dini untuk menjadi atlet dan uuntuk mencapai prestasi tinggi lebih cepatdibandingkan dengan metode alamiah. Metode ini menyeleksi dengan pertimbangan faktor-faktor, antara lain :
  1. Tinggi dan berat badan.
  2. Kecepatan.
  3. Waktu reaksi.
  4. Koordinasi dan kekuatan (power).
Dengan menggunakan proses pengidentifikasian bakat secara ilmiah, akan memperoleh beberapa keuntungan antara lain :
  1. Mempersingkat waktu yang diperluakan untuk mencapai prestasi tinggi, dengan menyeleksi para atlet berbakat dlam olahraga, kemudian disesuaikan dengan potensinya.
  2. Mengeliaminasi/ mengurangi volume kerja yang tinggi dari pelatih, energi dan identifikasi bakat. Efektifitas program latihan dapat dicapai bagi para atletyang memiliki potensi dan kemampuan tinggi.
  3. Meningkatkan kompetisi, daya saing dan menambah banyaknya jumlah atlet yang berpotensi dan mampu mencapai prestasi tinggi. Sebagai hasilnya akan diperoleh suatu tim nasional yang lebih baik dan mampu meraih/ mencapai prestasi internasional yang lebih tinggi.
  4. Meningkatkan rasa percaya diri pada atlet, karena dinamika prestasi akan tampak lebih dramatis, apabila dibandingkat atlet-atlet lainya pada usia sama. Namun tidak diseleksi terlebih dahulu melalai metode ilmiah.
  5. Secara tidak langsung tersedia fasilitas untuk penerapan latihan ilmiah, karena ilmuwan olahraga membantu mengidentifikasi bakat, termotivasi untuk melanjutkan dan memonitor latihan yang dilakukan oleh para atlet.

G.        Pentingnya Pemanduan Bakat Dalam Olahraga
            Dalam olahraga membutuhkan bakat-bakat yang terpendam yang dapat dilatih agar menjadi lebih baik dari sempurna, dan akan menciptakan suatu persepsi dari calon atlet untuk manjadi atlet profesional yang dapat mencapai prestasi setinggi-tingginya. Pemanduan bakat dalam olahraga sangatlah penting karena perannya sangat signifikan.
Seperti contoh : seorang anak A yang hanya dilatih olahraga yang digeluti orang tuanya, tetapi orang tuanya tidak mengetahui bakat apa yang terdapat dalam dirinya, maka hasil yang akn dicapai kurang maksimal. Sedangkan anak B dilatih sesuai bakat yang dididentifikasikan sebelumnya maka yang akan didapatkan adalah hasil yang lebih bagus dari anak A. Tetapi akan lebih bagus lagi jika anak-anak usia dini yag sudah diidentifikasi bakatnya menyukai olahraga yang sesuai dengan bakatnya tadi maka dengan latihan yang rutin maka dia akan menjadi atlet yang dapat menyumbangkan segudang prestasi.
            Dalam pemanduan bakat juga terdapat banyak ilmu yang bermanfaat bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan calaon atlet. Ilmu yang dimaksud adalah Anatomi, Fisiologi, Kinesiologi, Biomekanika, psikologi dan lain masih bnayak lagi.
Pemanduan bakat dapat membatu menidentifikasi calon atlet yang berbakat, membantu atlet memilih jenis olahraga yang sesuai dengan minat dan kemampuan bakatnya, dan dapat memperkirakan peluang berhasil dalam peminaan agar tidak terjadi kesia-siaan.
            Dari penjelasan, manfaat dan tujuan yang telah dikemukakan diatas, maka dari itu pemanduan bakat sangatlah penting dalam perkembangan olahraga apapun.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Ø  Penjelajahan konsep dan definisi olahraga hingga tuntas tidak akan berhasil diperoleh, karena definisi berkaitan dengan olahraga tersebut mengalami perubahan seiring dengan perubahan sosial dan pengaruh iptek.
Ø  Bakat adalah kemampuan untuk terbentuknya keahlian atau keberhasilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu.
Ø  Pemanduan bakat adalah potensi seseorang untuk berprestasi dalam olahraga tertentu karena dalam dirinya ada ciri-ciri tertentu yang dapat dikembangkan dan kondisi pra penunjang kegiatan.
Ø  Tujuan agar nantinya si anak mampu menunjukkan kesesuaian kondisinya sejak awal dalam menyelesaikan program latihannya.
Ø  Pengidentifikasian menurut (Bompa, 1990), dapat dilakukan dengan metode alamiah dan metode seleksi ilmiah.
Ø  Pemanduan bakat sangat penting dalam olahraga dikarenakan sangat membantu dalam mencari bibit-bibit atlet yang akan berprestasi maksimal.


DAFTAR PUSTAKA

Bompa. 1990. Theory and Methodology of Training. Dubugus, Iowa: Kendall. Hunt Publishing Company

Harrt, Dietrich (Ed). 1982. Principles of Sports Training. Berlin: Sport Verlag.

Harsono. 1988. Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Jakarta: CV. Tambak Kusuma

M. Furqon. H. 2001. Tindak Lanjut Penilaian Hasil Tes Pemanduan Bakat Olahraga dengan Metode Sport Search. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keolahragaan (PUSLITBANG OR) Universitas Sebelas Maret Surakarta

Setiawan Dwi, 2010. Identifikasi Bakat Olahraga Siswa Putra Kelas 1 Di Sekolah Menengah Pertama Negeri Se-Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar Tahun 2008 / 2009. Sekripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret : Surakarta

Sugiyanto dan Sudjarwo. 1991. Materi Pokok Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta: Depdikbud. Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II.
Wahadi, 2008. Pemanduan bakat. Buku Ajar. Semarang

Yusuf Adisasmita dan Aip Syarifudin. 1996. Ilmu Kepelatihan Dasar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik Jakarta





Akselerasi

Akselerasi

Untuk mengetahui percepatan kita harus mengetahui tentang kecepatan terlebih dahulu. Kita perlu menetapkan kapan tugas gerak dimulal dan kapan berakhimya. Selang waktu antara mulai dan berakhir kita sebut ‘waktu gerak;. Hal inilah yang menggambarkan kecepatan seseorang.
Kecepatan (speed) adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi dapat pula terbatas pada menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu kekuatan (strengh), waktu reaksi (reaction time), fleksibilitas (flexibility). Jadi, kalau berlatih untuk mengembangkan kecepatan, atlet harus dilatih kekuatan, fleksibilitas, dan kecepatan reaksinya, tidak hanya dilatih kecepatannya saja.
Faktor-faktor yang mempengaruhl kecepatan yaitu:
1. Keturunan (heredity) dan natural talent.
2. Waktu reaksi.
3. Kemampuan untuk mengatasi hambatan eksternal.
4. Teknik, misalnya sikap gerakan tangan dan kaki sewaktu berlari.
5. Konsentrasi dan semangat.
6. Elastisitas otot, terutama otot pergelangan kaki dan pinggul.
Kecepatan (lari) dapat dikembangkan melalui metode latihan-latihan:
1. Interval training
Jarak yang ditempuh telah ditentukan sedemlklan rupa sehingga faktor daya tahan tidak berpengaruh terhadap kecepatan.
2. Lari akselerasi
a. Lari akselerasi dimulal dengan gerakan lambat, makin lama makin cepat.
b. Lari akselerasl dengan diselingi lari deselerasi.
3. Uphill
Lari naik bukit, untuk mengembangkan dynamic strenght pada otot-otot tungkai, juga dapat dikembangkan dengan lari di air dangkal, pasir, salju, atau lapangan yang tanahnya lembek.
4. Downhill
Lari menuruni bukit, untuk melatih kecepatan frekuensi gerak kaki, lebih balk lagi kalau ada dorongan angin dari belakang.
5. Latihan kecepatan untuk anggota tubuh
Metode latihan ini dapat berbentuk melempar bola softball atau baseball atau mensmes bola, dengan melakukan gerakan-gerakan tersebut secara berulang-ulang dengan kecepatan yang makin tinggi.
             Jadi dapat diartikan bahwa Percepatan adalah seberapa cepat atlet dapat mencapai kecepatan maksimum, sedangkan kecepatan maksimum adalah kecepatan tercepat mutlak dicapai oleh atlet.  Percepatan dan kecepatan maksimum sering disatukan, dievaluasi dan terlatih, di bawah payung kecepatan. Percepatan dan kecepatan maksimum Sering disatukan, terlatih dan dievaluasi, kecepatan di Bawah payung. Memahami, menilai, dan pelatihan kedua kualitas itu akan membantu atlet meningkatkan kinerja nya. Memahami, menilai, kualitas kedua dan Pelatihan akan membantu atlet meningkatkan itu kinerjanya.

A.    CARA MELATIH AKSELERASI
Fase pertama : Adaptasi Anatomi
Diberikan pada Tahap Persiapan (Preparation Period)
Tujuan utama fase ini adalah :
- Untuk melibatkan sejumlah kelompok otot,
- Untuk mempersiapkan otot-otot, ligamen, tendon, dan persambungan/persendian
- Untuk mempertahankan fase latihan yang lama.
- Keseimbangan kerja pada flexors dan extensors masing-masing sambungan,
- Keseimbangan dua sisi tubuh, secara khusus bahu dan lengan
- Kompensasi kinerja pada otot-otot antagonis
- Penguatan pada otot-otot peseimbang (stabilizer)

Metode latihan yang dapat diterapkan diantaranya adalah Latihan Sirkuit (Circuit Training). Adapun parameter latihan yang dianjurkan adalah
Kekuatan Yang Cepat (Speed Strength)
Untuk cabang olahraga yang dominan kecepatan, latihan ini berlangsung pada tahap Kompetisi (Pra dan Kompetisi Utama)
Tujuan latihan kekuatan yang cepat adalah :
Meningkatkan kecepatan kontraksi otot yang menentukan prestasi di cabang olahraga tersebut.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka syarat latihannya adalah :
* Memakai beban latihan/tahanan yang lebih ringan atau
* Memakai beban latihan/tahanan yang beratnya sama dengan peralatan yang dipakai dalam pertandingan.
* Selanjutnya latihan ini harus dilakukan dengan kecepatan gerak yang setinggi-tingginya.
Catatan Penting :
- Kalau tahanan dalam latihan sedikit saja lebih berat dari alat yang digunakan dalam pertandingan maka kita tidak lagi membicarakan hal kekuatan yang cepat/speed strength.
- Kalau kecepatan kontraksi yang maksimal itu sudah pernah dicapai, maka kecepatan kontraksi maksimal ini tidak bisa diperbaiki lagi dengan latihan kekuatan yang cepat secara terpisah sekalipun.
Latihan kekuatan yang cepat baru akan efektif hasilnya, apabila latihan kekuatan yang cepat didahului dengan latihan untuk meningkatkan kekuatan yang maksimal. Jadi untuk mendapat kekuatan yang cepat latihannya harus dilakukan dengan urutan metode latihan sebagai berikut :
- Mula-mula tingkatkan kekuatan maksimal.
- Diikuti latihan kekuatan yang cepat yang mendekati gerak tehnik cabang olahraga yang bersangkutan agar kecepatan kontraksi bisa ditingkatkan.

C. CONTOH AKSELERASI
            Banyak atlet sulit membedakan antara dua kualitas keterampilan. Percepatan dan kecepatan maksimum sering disatukan, dievaluasi dan terlatih, di bawah payung kecepatan. Percepatan dan kecepatan maksimum Sering disatukan, terlatih dan dievaluasi, kecepatan di Bawah payung. Memahami, menilai, dan pelatihan kedua kualitas itu akan membantu atlet meningkatkan kinerja nya. Memahami, menilai, kualitas kedua dan Pelatihan akan membantu atlet meningkatkan  kinerjanya. Untuk memulai, percepatan adalah seberapa cepat atlet dapat mencapai kecepatan maksimum, sedangkan kecepatan maksimum adalah kecepatan tercepat mutlak dicapai oleh atlet. Untuk memulai, adalah percepatan seberapa Cepat atlet dapat mencapai kecepatan maksimum, kecepatan adalah kecepatan maksimum sedangkan tercepat Mutlak Dibuat dicapai atlet. Selain dari trek, tidak ada banyak olahraga di mana kecepatan berjalan maksimal secara konsisten tercapai. Selain dari perjalanan, pada umumnya tidak ada olahraga di mana kecepatan maksimal berjalan secara konsisten tercapai. Pikirkan tentang olahraga yang paling kompetitif, dan seberapa sering atlet mampu berlari secara linear, untuk jarak diperpanjang. Pikirkan Tentang Olahraga Yang kompetitif, atlet Secara Mampu Sering berlari linier, diperpanjang untuk jarak. Tuntutan olahraga, atau musuh, akan memaksa perlambatan, atau perubahan arah. Tuntutan Olahraga, musuh atau, perlambatan akan memaksa, Arah perubahan atau. Oleh karena itu, sangat penting bahwa seorang atlet mampu mempercepat dan melambat di arah yang berbeda, secepat mungkin. Atlet dapat mempercepat melambat di Arah Yang berbeda, dalam waktu secepat mungkin. Dalam olahraga seperti bisbol, kemampuan Fielder untuk lari ke drive baris dalam kesenjangan yang bergantung pada kemampuannya untuk mempercepat geraknya. Dalam sepak bola, kemampuan berlari dan menguasai permainan akan ditentukan oleh percepatannya.         Karena percepatan adalah komponen atletik yang dapat menentukan keberhasilan selama kompetisi, pelatihan untuk meningkatkan akselerasi harus menjadi prioritas.Karena percepatan adalah atletik Komponen Yang dapat menentukan keberhasilan selama Kompetisi, Pelatihan untuk meningkatkan akselerasi Harus menjadi Prioritas. Jadi bagaimana satu kereta api untuk meningkatkan akselerasi? Jadi Satu kereta api bagaimana untuk meningkatkan akselerasi? Pertama, atlet harus berusaha untuk memahami perbedaan antara percepatan mekanika dan mekanika kecepatan maks. Pertama, atlet Harus berusaha untuk memahami penyusutan antara percepatan mekanika dan mekanika kecepatan maksimal.
Seorang atlet harus berusaha untuk belajar sebanyak mungkin tentang berbagai tahapan berlari, dan kemudian menerapkan metode pelatihan yang efektif untuk meningkatkan percepatan ke dalam program kinerja. Seorang atlet Harus berusaha untuk belajar sebanyak mungkin berbagai Tentang Tahapan berlari, kemudian mengecek Memverifikasi Daftar nama dan metode Yang Pelatihan tersebut berlaku untuk meningkatkan percepatan gerak.
Dorongan dan Irama dalam Sprinter, Speedskater’s, dan Rowing

Dorongan dan Irama dalam Sprinter, Speedskater’s, dan Rowing


Sprint, speedskating, dan rowing merupakan kesamaan dimana atlet-atlet mengulang aksi yang samadalam sebuah persepedaan, gaya berulang selama perlombaan. Keahlian-keahlian ini tidaklah sama dengan lompat tinggi (dimana atlet dapat beristirahat setelah melompat) atau spike dalam voli (dimana keahlian-keahlian lainnyaseperti blocking, digging, atau settingbisa terjadi mendadak setelah sebuah spike). Atlet-atlet kelas atasmengulang aksi-aksi melesat mereka dalam track selama durasi perlombaan mereka. Para pendayungsecara berulang menarik dayung, dan para peluncur menusuk dan meluncur pada kecepatan tinngi di lintasan luncur. Selama perlombaan , atlet-atlet ini merubah–rubah jumlah kekuatan dan waktu yang mereka gunakan dengan bertumpu pada otot mereka. Karena mereka berakselersi dan mengatasi kelambatan masing-masing, delapan pendayung menggunakan sebuah irama yang lebih tinggi dengan hentakan yang lebih tinggi tiap menitnya pada saat start daripada yang pernah mereka lakukan saat latihan. Tiap tarikan pada dayung sangatlah cepat dan bertenaga, tapi dalam jarak yang pendek atau singkat. Sama juga, sprinter-sprinter dan speedkaters menggunakan langkah yang cepat dan singkat ketika mereka bergerak dari start. Sekali pergerakan dengan kecepatan tinggi, mereka mengurangi kecepatan tiap langkahnya tapi tiap langkah jauh lebih panjang. Mengapa? Karena kekuatan yang besar digunakan dengan cepat dan berulang dalam jarak yang pendek, atau gerakan dalam waktu singkat, adalah cara paling efisien mengatasi kelambanan. Ini adalah cara terbaik bagi sprinter dan delapan pendayung untuk bergerak dan berdiri pada kecepatan maksimal secepat mungkin.  Sayangnya sebuah tarikan atau langkah yang tinggi membuang-buang banyak energi, dan meskipun efisien saat berakselerasi, tapi tidak saat dalam kecepatan tinggi. Sekali menambah kecepatan, sprinter dan speedskaters mengurangi rata-rata langkah mereka dan memperpanjang tiap pijakan kaki. Pendayung menarik lebih jauh ditiap hentakan. Jadi meskipun jarak langkah dan hentakan mungkin dikurangi, tenaga yang besar tetap digunakan diatas jarak kenaikan gerakan pada irama rendah. Penurunan dalam irama ini membantu atlet-atlet mengatur kecepatannya tanpa kehabisan energi.

Menggunakan Dorongan untuk Memperlambat dan Berhenti
Mari melihat dorongan dengan cara yang berbeda. Dalam sesi ini, kalian akan melihat bagaimana dorongan digunakan untuk memperlambat dan menghentikan suatu objek. Disini ada sebuah contoh. Seorang pemain hoki lapangan. Memukul bola dan bola tersebut berguling melewatilapangan rumput. Pergesekan antara rerumputan dan resistensi udara mengakibatkan bola perlahan berhenti. Sedikit kekuatan dari pergesekan dan resistensi udara digunakan pada bola untuk waktu yang lama (dan jarak yang panjang) dan hasil akhirnya mereka secara terus menerus mengurangi momentum menjadi nol. Sesaat kekuatan yang digunakan pada bola rendah, tapi itu digunakan terus menerus dalam waktu yang lama.
Bandingkan dengan kekuatan yang bekerja pada pemain hoki lapangan dengan pemain basket yang melompat untuk slam dunk sesuda itu mendarat dengan kaki yang kencang di lantai. Massa pemain, jatuh dari berat, menghempas ke lantai dan tiba pada perhentian seketika. Kekuatan reaksi dari lantai (misalnya bumi/ tanah) kembali pada atlet dengan kekuatan sama seperti yang atlet gunakan saat menghentak lantai. Sayangnya, waktu selama tubuh atlet harus menyerap kekuatan ini sangatlah pendek, jadi kejutan dan tekanan pada tubuh atlet sangatlah fenomenal. Bagaimana para atlet secara alami mengatasi hal ini? Mereka melenturkan engkel, lutut, dan pinggul. Ketika kalian melatih, beritahu atletmu “tekuk lututmu saat mendarat!” dalam perasaan mekanis, saran latihanmu memberitahu atlet-atlet untuk memperpajang waktu penyerapan dan penerimaan kekuatan dari tanah oleh tubuh. Pada waktu yang lebih lama, kekuatan yang digunakan pada tubuh atlet akan berkurang.
Pada banyak situasi olahraga, sulit untuk memperpanjang waktu untuk menghaluskan benturan. Sebuah tangkapan baseman pertama untuk menangkap bola akan diperpanjang penuh dan tidak bisa selalu menarik tangannya kembali untuk memanjangkan waktu saat kntak dengan bola. Tapi sarung tangan membantu. Bantalannya yang empuk memparapanjang waku kontak dengan bola, dimana menahan bola dengan penuh ditangan pemain. Penjaga lapangan di kriket tidak menggunakan sarung tangan seperti di baseball. Dalam kriket sarung tangannya lebih keras dibandingkan pada baseball. Untuk menghindari goresan karena menghentikan bola yang keras, penjaga lapangan di kriket menjulurkan tangannya untuk menangkap bola dan sesaat setelah kontak, dengan cepat menarik tangannya ke belakang. Hal ini meningkatkan waktu dimanan bola digunakan di tangannya. Waktu penangkapan dan penarikan tangan penjaga lapangan dibutuhkan latihan yang serius.
Selain itu untuk memperpanjang waktu dimana kekuatan digunakan pada tubuhnya, atlet-atlet diajarkan untuk memperluas area benturan (misalnya tempat dimana kekuatan digunakan) sebanyak mungkin. Seorang pelari slide menuu home base adalah contoh yang bagus. Perpindahan tidak hanya mendapatkan kaki pelari dibawah pencapaian kartu lawan, tapi juga memperpanjang waktu saat pergesekan dengan tanah membawa atlet pada perhentian. Selain itu, aksi menyliding menempatkan area yang luas untuk tubuh pelari dalam kontak dengan tanah. Menngambarkan kesakitan dan ketidaknyamanan dari seorang pelari yang ber-diving di karung dengan kepala lebih dahulu dan berhenti seketika dihidungnya! Meskipun skenario comical ini jarang, jika ada, terjadi, itu mengilustrasikan situasi dimana kekuatan penuh diproduksi oleh atlet dikurangi menjadi nol sesaat dan pada area yang sangat kecil dan sensitif.
Atlet-atlet dibanyak olahraga, diajari teknik-teknik spesifik untuk memperluas area dan waktu yang menguatkan aksi pada tubuh mereka. Dengan melakukan ini, mereka menghindari cedera dan untuk menghindari untuk level kenyamanan tekanan yang dignakan padanya. Peloncat ski menampilkan “telemark landing” setelah terbang di udara. Menekukkan kakinya dengan satu kaki di depan da satu kaki di belakang memperpanjang waktu yang kekuatan bentura dari pendaratan digunakan pada tubuhnya (lihat gambar 3.4) pemain hoki mencoba untuk mengendalikan kekuatan seorang pengawas dari musuh, dan atlet judo menggunakan teknik breakfall yang memperluas area dan waktu dimana kekuatan benturan dengan matras (misal tanah) digunakan pada tubuhnya. Mungkin salah satu contoh paling terkenal dari prinsip mekanis ini adalah teknik legendaris Muhammad Ali berguling dengan pukulan lawan. Saat musuhnya melayangkan sebuah pukulan, muhammad menggulingkan kepala dan tubuhnya kebelakang. Dengan cara ini, kekuatan pukulan lawan diperpanjang lebih lama dan menjadi tak berefek. Bayangkan jika muhammad maju ke depan pukulan yang di layangkan oleh musuhnya. Waktu kontak seketika akan dikurangi dan efek ppukulan akan lebih besar.
 Atlet-atlet tidak selalu harus mengandalkan pada teknik-teknik spesial untuk mencegah cedera ketika mereka terlibat pada situasi benturan. Mereka bisa mendapat bantuan dari alat yang didesain untuk memperlama waktu dan memperluas area dimana kekuatan eksternal digunakan pada tubuh mereka. Helm, bantalan, sarung tangan, tameng, gabus-penyekat-filled landing pits, dan termasuk parasut melakukan tugas ini. Kekuatan penuh digunakan pada tubuh atlet tidak berubah, tapi dengan perpanjangan waktu dan area penggunaan, kekuatan yang digunakan seketika pada satu tempat ditubuh atlet secara signifikan dikurangi. Kantong udara di mobil menggunakan prinsip yang sama.

Momentum Linear Konservasi
Saat kita membicarakan mengenai “Momentum Linear Konservasi”, kita beranggapan pada banyak interaksi (misal tubrukan) antara 2 objek (seperti baseball ditubruk oleh pemukul atau 2 pemain hoki saling membanting), jumlah total dari momentum linear dari kesemua objek setelah tubrukan akan sama seperti jumlah tota yang dilakukan sebelumnya. Jadi jika 2 pemain membawa total 100 unit momentum linear pada trackle saat mereka bertumbukan satu sama lain, lalu setelah trackle, 100 unit momentum linear akan tetap ada. Momentum linear tidaklah bertanbah atau secara mengejutkan hilang. Kita menyebut ini sebagai “awet”. Aturan dari momentum linear konservasi adalah secara langsungg berhubungan dengan hukum Newton III. Dimana menyatakan bahwa tiap aksi mempunyai kesamaan dan lawan reaksi. Menggunakan 2 pemain football, Jack dan Pete, disini bagaimana hukum momentum linear konservasi bekerja :
·         Jika Jack mentekel Pete dipertandingan football, Jack dan Pete menggunakan kekuatan yang sama dan berlawanan satu sama lain selama tekel berlangsung dalam periode waktu yang sama. Jika menggunakan kekuatan melawan Pete 1 detik saat mentakel, dan Pete melakukan hal yang sama pada Jack. Cara ini mungkin tidak telihat saat kalian melihat seorang penerima terhantam sesaat setelah menangkap bola, tapi secara mekanis inilah yang terjadi.
·          Dari penjelasan diatas, kita bisa melihat Jack dan Pete memperoleh dorongan sama dan berlawanan. Kesamaan dan perbedaan dorongan berarti kekuatan yang dihasilkan Jack terlipat gandakan oleh waktu jadi dia gunakan tenaganya di tackle digunakan kembali padanya dengan arah berlawanan dengan Pete. [F x t (Jack) = F x t (Pete)].
·         Setelah dorongan yang digunakan Jack dan Pete satu sama lain jumlahnya sama dan berlawanan arah, kemudian perubahan momentum linear keduanya juga harus sama dan berlawanan. Misalnya, jika momentum linear Pete meningkat dalam jumlah yang nyata selama tackle, momentum linear Jack juga harus dikurangani dengan jumlah yang sama.
·         Momentum linear kombinasi dari Jack dan Pete bagaimanapun hasilnya tidak akan berubah. Momentum linear dikirim dari satu atlet ke atlet lainnya, tapi tidak boleh ada pertambahan atau pengurangan di momentum linear total kedua pemain. Konsekuensinya kita mengakatan bahwa total momentum linear dari kedua pemain telah dikonsevasi

Menyerap Tubrukan
Kantong udara dimobil berguna sama seperti a pole-vaulter’s landing pad: keduanya didesain untuk menyerap tubrukan. A pole-voulter’s landing pad secara permanen diisi dengan bahan-bahan penyerap yang membantali pendaratan atlet. Kantong udara dimobil harus mengisi pada kecepatan tinggi untuk menyerap tubrukan dari pengemudi atau penumpang yang terlempar kedepan dalam sebuah tubrukan. Menggunakan prinsip yang sama pada kantong udara di mobil bubbles cushion springboard dan latihan menyelam dalam menara. Tekanan udara dikeluarkan dari bawah tangki selam. Udara saat itu berguna mengangkat dan menyediakan ruang atas dari busa-busa air di permukaan. Ada hukuman yang kurang jika atlet gagal dalam sebuah penyelaman karena ada sebuah dasar yang encer untuk naik. Penyelam bisa gagal dalam menyelaman lebih dari 10 m menaratahu bahwa pada 33mph, kebanyakan sengatan dari tubrukan air telah di hilangkan.
Tubrukan terjadi sepanjang olahraga dan itu tidak membuat perbedaan jika satu obek sedang bergerak (misal golf) dan lainnya (bola golf terletak pada permulaan golf) tidak bergerak. Bola bertambah momentum linearnya dan klub kehilangan beberapa dari momentum linearnya sebelum bertubrukan dengan bola. Tubrukan tidak bisa menciptakan atau menghilangkan momentum linear. Semua yang terjadi itu adalaah transfer momentum linear dari satu obje ke objek lainnya.

Kerja Mekanik
            Pada kegunaan sehari-hari, kerja biasanya termasuk beberapa macam aktivitas tidak menyenangkan separti “bermain”. Bekerja diruangan yang berat, meskipun ini bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, seperti buruh dan keerja keras. Dalam mekanik setelah pekerjaan selesai, itu secara spesifik berarti bahwa sebuah objek atau atlet telah menggunakan kekuatan selama waktu tertentu. Karena jarak termasuk, objek atau atlet bergerak dari posisi satu ke posisi lainnya. Kalian dapat melihat kekuatan yang digunakan itu harus terhubung kedorongan, dimana kekuatan digunakan selama durasi waktu yang nyata. Dalam arti mekanik, pekerjaan dan dorongan terhubung ketika sebuah resisten digerakkan dalam jarak tertentu. Seorang atlet menggunakan kekuatan ke lembing selama jumlah waktu dan jarak tertentu yang nyata. Jadi dalam penggunakan dorongan pada lembing, atlet itu juga melakukan sebuah usaha pada lembing. Misalnya pada hoki lapangan, dimana rumput secara perlahan membawa bola hoki lapangan pada perhentiannya, rumput secara progesif melakukan kekuatan pada bola. Ini adalah sebuah ekspresi dari perhentian dorongan dn itu juga sebuah contoh dari usaha mekanis yang telah dilakukan. Dalam kedua kasus itu, kekuatan digunakan ke lembing dan bola hoki selama waktu yang lama sama baiknya seperti jarak yang jauh.

Kekuatan
            Kekuatan berarti jumlah usaha mekanis yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan tenaga kuda sebagai sebuah ukuran dari tenaga mesin dan motor seperti yang mereka gunakan pada indy 500, satu tenaga kuda adalah kemampuan mesin (atau manusia) untuk bergerak 500 lb dalam jarak 1 kaki dalam 1 detik. Dalam sistem meteran, tenaga diukur dalam watts (745.7 watts = 1 tenaga kuda).
            Bagaimana tenaga digunakan dalam konteks atlet? Menggunakan  angkat berat misalnya, bayangkan atlet mengangkat barbel dalam jumlah yang sama berat. Yang satu membutuhkan 2 detik untuk mengangkat diatas kepala, dan yang satu lagi membutuhkan 1 detik. Mereka menangkat babel dalam jarak yang sama. Dalam perbandingan ini, atlet yang lebih lama adalah yang lebih bertenaga. Mengapa? Kedua atlet mengangkat berat yang sama sepanjang jarak yang sama dan menampilkan jumlah yang sama dari usaha mekanis. Tapi atlet kedua membutuhkan waktu yang kurang dari yang pertama, dan inilah kenapa disebut lebih bertenaga.
Berikut contoh lain mengilustrasikan tenaga. Mari bayangkan bahwa 2 atlet (kita bisa menyebutnya Scott dan Rick) berlomba lari 100 m. Mereka melewati garis di waktu 10.0 detik. Dan mari mengatakan bahwa di perlombaan itu, Scott lebih kuat dibanding Rick. Ini berarti Scott lebih bertenaga karena dia bergerak lebih jauh dalam jarak dan waktu yang sama dibanding Rick. Gambaran ini juga mengindikasikan bahwa tenaga berbeda dengan kekuatan (kemampuan otot untuk melakukan kekuatan). Karena kekuatan tidak berarti membutuhkan kecepatan. Mungkin dengan dasar ini, olahraga angkat berat, yang cenderung mengukur kekuatan dibanding tenaga pada berjongkok, bench press, dan the deadlift bisa disebut “kekuatan mengangkat.”
            Pada banyak olahraga, tenaga yang besar adalah penting  karena sebuah gerakan lambat dari kekuatan tidak akan menyelesaikan pekerjaan. Ini adalah sebab tertentu dalam even melempar dan melompat, the snatch, dan the clean, dan jerk dalam olimpiade mengangkat, dan seperti sebuah olahraga senam dimana kemampuan seperti mundur dan maju tidak bisa dilakukan dengan lambat. Penampilan yang sukses di even ini tergantung pada besarnya kekuatan yang digunakan pada jarak tertentu dengan cepat.

Energi
            Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang energik adalah seseorang yang bisa beraksi. Dalam mekanik, bentuk energi secara spesifikbeararti kemampuan seorang atlet atau objek untuk melakukan usaha mekanis (misalnya untuk menggunakan kekuatan selama jarak tertentu melawan daya tahan). Energi mekanis datang dalam 3 bentuk: energi kinetik, energi potensial gravitasi, energi strain.
Energi Kinetik
Kata kinetik berarti bahwa gerakan terlibat, dan energi kinetik adalah kapasitas suatu obek dan atlet untuk melakukan usahamekanis dangan virtue dari pergerakan. Kelebihan massa yang mereka miliki, dan mereka lebih cepat bergerak disaat tertentu, kapasitas terbesar merekalah yang melakukan usaha mekanis. Atlet atau objek apapun yang sedang bergerak akan selalu mempunyai momentum dan energi kinetik. Kita akan melihat bagaimana momentum dan energi kinetik terhubung tapi berbeda di bab berikutnya.
Energi Potensial Gravitasi
Energi potensial gravitasi adalah sebuah bentuk energi cadangan-energi yang mana secara potensial siap dan tersedia untuk digunakan. Atlet dan objek memiliki energi potensial gravitasi ketika mereka terangkat dipermukaan planet dan utamanya dipengaruhi oleh gravitasi planet. Karena olahraga yang kita pelajari berada dan berkaitan erat dengan permukaan planet, energi potensial gravitasi berarti energi dimana objek dan atlet mempunyai saat terangkat dipermukaan tanah walaupun dalam jarak yang pendek. Makin berat dan makin banyak massanya maka energi potensial gravitasi yang dimilikinya semakin besar. (berat diatas permukaan tanah = jarak, massa = resisten, dan kekuatan yang mengangkatnya = gravitasi) . berbeda dengan objek yang mempunyai energi kinetik, objek atau atlet mempunyai energi potensial gravitasi hanya dengan diposisikan pada suatu jarak diatas permukaan tanah. Mereka tidak perlu untuk digerakkan.
            Usaha mekanis harus dilakukan untuk melawan tekanan gravitasi untuk menciptakan atlet berada diatas permukaan tanah sehingga mereka mempunyai energi potensial gravitasi. Misalnya saja atlet yang memanjat sampai tower 10 m dan berbalik arah turu ke kolam. Atlet melakukan saha mekanis memanjat pijakan dan mengangkat massa tubuhnya ke atas. Dengan tiap pijakan mereka memanjat, mereka meningkatkan energi potensial gravitasi. Roller coster tidaklah berbeda. Kereta roller coster dan penumpangnya di tarik oleh mesin ke atas gundukan pertamadi trek, dan pada saatnya kereta dan penumpangnya memposisikan energi potensial gravitasi maksimum untuk ketinggian mereka berada. Saat kereta roller coster (penumpang) berakselerasi turun menuju permukaan bumi, energi potensial gravitasi diubah secara primer ke energi gerak (energi kinetik). Kita menyebutnya “secara primer” karena tidak semua energi kinetik disebut sebagai gerakan. Beberapa energi kinetik diubah ke bentuk suara dan panas.
Energi Strain
Energi strain, sama seperti energi potensial gravitasi juga merupakan energi cadangan. Objek mempunyai kapasitas untuk menyimpan energi strain jika mereka mempunyai kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri ke bentuk asalnya setelah di tekan, di tarik, di putar atau di dorong keluar dari bentuk asalnya. Usaha mekanis harus diselesaikan untuk meletakkan objek ke kondisi ini, dan sekali murubah bentuk, kemampuan objek untuk memulihkan diri ke bentuk aslinya secepat mungkin adalah ukuran dari energi strainnya. Busur penahan yang di pegaskan ke bentuk aslinya setelah ditarik adalah sebuah contoh dari energi strain. Bola golf juga akan kembali ke bentuk asalnyasetelah di tekan oleh pengemudi, dan juga daun dan gulungan kembali digunakan pada mobil dan motor kembali ke bentuk aslinya setelah dibengkokkan. Semuanya adalah contoh energi strain.
Enegi Kinetik, Energi potensial Gravitasi, Energi Strain pada Pole Vaulting
Kinetik, potensial gravitasi, dan energi strain didemonstrasikan dengan baik di pole vault. Di even ini, seorang atlet sprint keluar membawa tongkat. Energi kinetik di bangun selama  pendekatan (karena massa atlet dan massa tongkat adalah dalam gerakan) digunakan untuk melenturkan tongkat dan mengisinya dengan energi strain.
            Ketika pole vaulting melentur saat pelenturan, atlet telah melakukan usaha mekanis di tongkat dengan menggunakan kekuatan dengan jarak tertentu. Jika atlet berlari perlahab selama pendekatan, tongkat kurang di lenturkan dan energi strain kurang di simpan didalamnya. Seperti busur panah yang ditarik kebelakang sedikit, sebuah pole vaulter’s yang tidak dilenturkan dengan jumlah yang optimal tidak bisa melakukan banyak “usaha” ketika itu lurus dan atlet menyetir ke atas. Pole vaulter kelas atas selalu mengkombinasikan keahlian senam dan lari. Yang lebih cepat berlari dan lebih tinggi dan yang bertenagalah yang akan bisa mencapai lebih tinggi. Seorang atlet fenomenal seperti Sergei Bubka dari Ukrania, yang mana melompat lebih dari 20 kaki (lebih dari 6 meter) baik dalam ruangan maupun outdoor, sangatlah bertenaga dan seoarang sprinter hebat yang bisa berpegangan sangat tinggi di galah yang panjang, kaku yang khususnya di bebankan pada berat badannya (176 lb, atau 80 kg). Jika kalian bisa melakukan di galah macam ini, kalian menyimpan jumlh energi strain yang besar di galah (lihat gambar 3.5), yang mana terbalik ke kalian untuk meluncurkanmu ke atas menuju crossbar