Candraokey News - Riset terkini mendapati bahwa kehancuran spesies burung moa di Negeri Kiwi menjadi hal yang tidak bisa dicegah usai kedatangan Homo sapiens. Menggunakan data fosil serta simulasi komputer modern, peneliti-peneliti tersebut memperoleh fakta bahwa pemburuannya dan pemanenan telurnya berkelanjutan mendorong lenyapnya makhluk besar itu dalam tempo seabad-an saja.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science of the Total Environment, solusi tunggal untuk kelangsungan hidup moa adalah mendirikan area konservasi yang meliputi lebih dari separuh bagian New Zealand. Akan tetapi, pendekatan tersebut dinilai kurang praktis mengingat gaya hidup serta keperluan masyarakat Polynesia penghuni awal saat itu.
Bagaimana Moa Punah?
Dr. Sean Tomlinson, pemimpin penelitian dari Sekolah Molekuler dan Ilmu Kehidupan Curtin, mengatakan bahwa kehadiran manusia kira-kira 600 tahun yang lalu memicu kepunahan berbagai jenis spesies endemik di daerah Pasifik, seperti burung moa.
"Burung Moa merupakan jenis unggas raksasa yang kehilangan kemampuan untuk terbang dan lenyap dari bumi sekitar 100 sampai 300 tahun sesudah kedatangan manusia di Negeri Zealand Baru," jelas Dr. Tomlinson. Studi ini menunjukkan bahwa pemburuannya secara terus-menerus serta pemanenan telurnya menjadi faktor utama penyebab kepunahan spesies tersebut.
Bisakah Moa Bertahan?
Dengan menggabungkan informasi dari fosil dan menggunakan perhitungan pada komputer, para peneliti menyimpulkan bahwa kehancuran spesies burung moa sudah tidak dapat dicegah.
"Saluran satu untuk memastikan buruan dapat hidup bersamaan dengan manusia adalah dengan mendirikan area pelarangan pemburuan yang meliputi lebih dari separuh bagian Selandia Baru," ungkap Dr. Tomlinson. Akan tetapi, seiring kebiasaan penduduk Polinesia yang amat ketergantungan kepada hasil alam sebagai pemasok makanan utama, apalagi di daerah selatan negeri tersebut, tugas itu menjadi suatu hal yang nyaris tak mungkin dicapai.
Materi tentang Pelestarian Hewan Endemik
Walaupun moa telah punah, studi ini menyediakan pemahaman penting dalam rangka melindungi spesies-spesies lainnya yang sedang menghadapi ancaman kepunahan. Menurut Associate Professor Damien Fordham dari Universitas Adelaide’s Environment Institute, perlunya proteksi tambahan mesti diterapkan pada jenis-jenis burung besar tak berkemampuan terbang seperti kiwi serta kasuari.
"Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa spesies-spesies yang sudah lenyap bisa menyediakan pemahaman vital guna mendukung usaha pelestarian bagi burung-burung yang masih bertahan," jelas Dr. Fordham.
Dengan mempelajari latar belakang kepunahan burung moa, kita bisa menerapkan tindakan lebih efektif untuk menjaga hewan langka yang masih hidup di alam semesta ini. Bila tidak demikian, masa lalu dapat terjadi lagi, dan kita akan merelakan hilangnya tambahan spesies penting.