Kereton Solo Ungkap Perbedaan Waktu Operasional PKL di Shelter dan Area Sekitar Alun-Alun Selatan

Laporan Jurnalis CDR News, Ahmad Syarifudin

CDR News, SOLO - Setelah Alun-alun Selatan Keraton Solo direnovasi dan dibuka lagi untuk publik, pedagang kaki lima terlihat sudah mulai melakukan aktivitas menawarkan barang dagangan mereka.

Akan tetapi, terdapat juga PKL yang membuka stan di luar tempat penampungan sementara dengan menggunakan tenda.

Putri Pakubuwono XIII, GKR Timoer Rumbai menyatakan bahwa ada jam operasional yang berbeda untuk pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan shelter dibandingkan dengan mereka yang menempati tenda.

"Tempat penampungan menjalankan bisnis mereka sejak pagi hari. Mereka beroperasi mulai pagi hingga malam. Sementara itu, tempat yang ada di tenda hanya buka dari sore hingga malam," terangnya ketika dihubungi pada Hari Selasa, 11 Maret 2025.

Timoer juga menyebut beberapa alasannya tentang mengapa para pedagang di Alun-Alun Selatan boleh meletakkan stand mereka di luar tempat penampungan yang sudah disiapkan.

Sebenarnya, awalnya pembangunan shelter bertujuan untuk mengatur pedagang kaki lima (PKL) supaya tidak menyebar dan menciptakan kesan berantakan.

Salah satunya karena di antara kurang lebih 300 PKL, tempat penampungan tersebut hanya dapat mengakomodasi 42 pedagang saja.

Oleh karena itu, dia juga menampung pedagang yang belum terakomodir di dalam tenda, walaupun jumlahnya tidak serumah seperti dahulu.

"PKL yang telah kami seleksi dengan cermat diprioritaskan untuk mereka yang memiliki KTP Baluwarti atau Solo. Jumlah PKL kini menurun menjadi hanya 105 dari awalnya 300. Mengurangi jumlah PKL begitu drastis rasanya sayang sekali. Mereka sudah bertahun-tahun mencari nafkah di Alun-Alun," jelasnya.

Di samping itu, mereka membutuhkan pendapatan tambahan khususnya untuk perawatan Kebo Bule Kyai Slamet.

Selama ini, Alun-Alun Selatan merupakan salah satu sumber pendapatan signifikan selain Museum Keraton.

Berkurang Setengah, PKL di Selatan Alun-alun Keraton Solo Tinggal Sekitar 100, Semua Milik Warga Baluwarti

"Sebagian besar di sekitar alun-alun terdapat PKL yang memenuhi kebutuhan Kyai Slamet. Banyak warga telah menyadari bahwa kesultanan tidak lagi merupakan wilayah istimewa dengan harta berlimpah. Pendapatan kesultanan hanya berasal dari manajemen museum dan alun-alun saja. Tidak disebabkan oleh ketamakan akan uang," ungkapnya.

Walaupun mengizinkan pedagang kaki lima untuk berjualan di luar tempat penampungan, ia menyatakan bahwa kebersihan masih dapat dikelola dengan baik.

Mereka beserta dengan para pedagang sudah berjanji akan memelihara kesucian dan kenyamanan bagi yang berkunjung.

"Kami mengelolanya bersama-sama," katanya.

GKR Timur Berharap Alun-alun Selatan Keraton Solo Dapat Dipertimbangkan Sebagai Tujuan Wisata Setelah Diopened Kembali

Lapangan tengah hanya dipergunakan untuk acara-acara yang bersifat sementara. Sedangkan wahana serta permainan anak-anak telah hilang sama sekali.

"Hanyalah saat ada acara. Tak terdapat penjual atau hiburan untuk anak-anak. Sekarang belum tersedia (bendi)," paparnya.

Jangan lupa tinggalkan pesan yach .....

إرسال تعليق (0)
أحدث أقدم