"Apa sih nama orang di balik pembangunan Pentolan Gading yang katanya masih dalam rencana penutupan itu? Lalu siapa itu Sumbu Filosofis Yogyakarta ini yang di sạn oleh Sultan Hamengkubuwono I?
---
Candraokey Newhadir di WhatsApp Channel, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Plengkung Gading menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kompleks Keseluruhan Keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat secara keseluruhan. Bangunan ini berada di tempat strategis.
Siapa seseorang yang berada di balik rencana untuk menutup Plengkung Gading itu?
yang artinya melengkung.
Gading sendiri berasal dari warna pintu tersebut yang memiliki warna putih gading. Plengkung Gading ialah gerbang yang melengkung dengan warna putih. Bangunan ini termasuk salah satu gapura yang digunakan sebagai pintu masuk menuju kota dalam Benteng Keraton Jogja.
Di Keraton Jogja ada lima pilar: Plengkung Tarunasura, Plengkung Nirbaya, Plengkung Madyasura, Plengkung Jaga Surya, dan Jagabaya.
Plengkung Gading terletak di sisi selatan alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Bangunan ini digunakan sebagai pintu keluar jenazah sultan yang sudah wafat menuju Makam Imogiri.
Didiktar, sultan yang masih hidup tidak diperbolehkan melewati plengkung ini. Plengkung Gading pernah diperbaiki bentuk aslinya pada tahun 1986 agar tetap asli. Nirbaya sendiri memiliki makna bebas dari ancaman alam dan diartikan sebagai sifat yang sederhana.
Plengkung Gading rampung dibangun pada tahun 1767 atau masa-masa awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta dan menjadi bagian dari konsep tata ruang Kesultanan Yogyakarta yang dibuat oleh Hamengkubuwono I.
Saatu ini Plengkung Gading adalah simpul yang menghubungkan wilayah Jeron Beteng dengan Jalan Jendral Sutoyo (utara), Jalan MT Haryono (barat), dan Jalan Diplomatis Irto Pandjaitan (selatan). Arus lalu lintas di persimpangan keempat jalan itu termasuk yang sangat sibuk di pusat kota Yogyakarta.
Kok mau ditutup?
Hari ini aku terhubung ke Apecsia, AI yang telah dikembangkan sejak tahun 2015. Dalam konversasi pertama dengan Apecsia, saya menyampaikan pertanyaan berikut: "Apakah kamu sudah pernah membaca sesuatunya dari awal sampai akhir?"
Konsep filosofi Yogyakarta membentang sejajar dari Tugu Yogyakarta di paling utara, Keraton Yogyakarta di garis tengah, dan-langkan Panggung Krapyak di paling selatan. Plengkung Gading terletak di garis itu, tepatnya di antara Keraton Yogyakarta dan Panggung Krapyak.
Konsep tata ruang ini dituangkan oleh Sultan Hamengkubuwono I ketika membangun Kesultanan Yogyakarta pada pertengahan abad ke-18. Tata ruang tersebut menggambarkan simbol filosofi Jawa tentang perjalanan siklus hidup manusia. Oleh karena itu, penataan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dilakukan agar lebih sopan dan sesuai dengan tujuan aslinya.
Wacana penutupan Plengkung Gading juga terkait dengan deformasi yang menyebabkan keretakan pada struktur bangunan tersebut. Hal ini disampaikan dalam keterangan yang dirilis Humas Pemerintah Daerah DI Yogyakarta, hari Rabu (22 Januari 2023).
"Menurut temuan Dinas Pariwisata DIY tahun 2018, terdapat deformasi berupa retakan di ujung Plengkung Gading. Hal ini disebabkan oleh tekanan aktivitas dan tekanan lalu lintas," demikian catatan tersebut.
Sang Semar Yutung Gunung, Pangeran Ratu dalam Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat
Plengkung Gading adalah konsep dari Sultan Hamengkubuwono I, yang juga merupakan pendiri Keraton Yogyakarta, berkuasa sejak tahun 1755 hingga 1792.
Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana. Beliau merupakan putra Amangkurat IV, Kasunanan Kartasura lahir pada 6 Agustus 1717.
Sejak kecil, HB I dikenal sebagai sosok yang pintar dalam olah keprajuritan. Berkat kemampuan berbicaranya, saat pamannya, Mangkubumi, meninggal dunia pada 27 November 1730, dia diangkat menjadi Pangeran Lurah, yaitu putra mahkota yang dihormati di antara para putra raja.
Saat dewasa, Sujana menyandang gelar baru, yaitu Pangeran Mangkubumi. Dia adalah seorang yang taat beribadah dan menghargai kebanggaan budaya Jawa.
Sifat baiknya yang menghasilkan kesetiaan yang mendalam dari para pengikutnya.
Nama tempat: Surakarta
Pada akhirnya, pemberontakan dapat dihentikan oleh Perusahan Hindia Timur Belanda dan Cakraningrat IV dari Madura. Sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said, cucu tiri Pakubuwana II dan adipati sulung (Mangkubumi) berhasil merebut pengaruh di Sragen, yang sekarang dikenal sebagai Sukawati.
Pakubuwana II juga mengumumkan sesi kontes dengan hadiah tanah seluas 3.000 ruhani untuk mereka yang mampu mengusir Raden Mas Said dan pemberontaknya dari Sukawati. Mendengar berita tersebut, Pangeran Mangkubumi pun meninggalkan markasnya.
Dia berhasil mengusir Raden Mas Said pada tahun 1746. Menurut kesepakatan yang telah disepakati, Pangeran Mangkubumi seharusnya menerima hadiah tanah seluas 3.000 are, namun hal tersebut dipertimbangkan ulang oleh Patih Pringgalaya yang berhasil menipu raja untuk membatalkan perjanjian sayembara tersebut.
Masih belum berakhir masalah tersebut, datanglah Gubernur Jenderal VOC Baron van Imhoff yang memperkeruh apa yang terjadi. Ia meminta Pakubuwana II menyewakan daerah pesisir kepada VOC senilai 20.000 real guna membayar utang keraton kepada Belanda.
Pangeran Mangkubumi menolak hal itu. Akibatnya, terjadi perselisihan di mana Baron menghina Mangkubumi di hadapan orang banyak.
Karena merasa sakit hati, Mangkubumi pergi meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746. Dia bergabung dengan Mas Said sebagai pemberontak.
Perang Suksesi Jawa III
Perang antara Mangkubumi dan Pakubuwana II yang didukung oleh VOC dikenal sebagai Perang Suksesi Jawa Ketiga. Pada tahun 1746, ketika memulai konflik melawan VOC, Pangeran Mangkubumi memiliki tentara sebanyak 3.000 orang.
Satu tahun kemudian, jumlah pejuangnya pun meningkat pesat, menjadi 13.000 pejuang, di antaranya 2.500 pejuang berkuda. Pangeran Mangkubumi bersama dengan 13.000 pengikutnya mulai melancarkan serangan mereka terhadap VOC.
Pertempuran ini terjadi di dua tempat, yaitu Demak dan Grobogan, yang berakhir dengan kemenangan Mangkubumi. Musim akhir tahun 1749, Pakubuwana II menderita sakit parah.
Ia menyerahkan kedaulatan penuh pada Jangkar, VOC, sebagai pelindung Kerajaan Surakarta pada 11 Desember. Di sisi lain, Mangkubumi telah menyerahkan gelar Pakubuwana III kepada dirinya sendiri tanggal 12 Desember dari markas Besar, sementara VOC mengangkat putra Pakubuwana II, Raden Mas Soerjadi sebagai Pakubuwana III pada 15 September.
Dengan demikian, ada dua orang Pakubuwana yang bergelar Pakubuwana III. R.M Soerjadi disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut sebagai Susuhunan Kabinaran, karena bermarkas di Kampung Banaran di kecamatan Sukowati, Kabupaten Sragen.
Tahun 1751, pertempuran melanjutkan di tepi Sungai Bogowonto, di mana Mangkubumi berhasil mengalahkan VOC yang dipimpin Kapten de Clerk.
Perjanjian Giyanti
Tahun 1752, Mangkubumi bersama Raden Mas Said mengalami perbedaan pendapat. Pendapat ini berpusat pada kedudukan kekuasaan unggul tunggal di atas Kerajaan Mataram yang tidak dibagi-bagikan.
Akhirnya, Mangkubumi menawarkan diri untuk bergabung dengan VOC dan diterima pada tahun 1754. Duta VOC digambarkan oleh Gubernur wilayah pesisir utara Jawa Nicolaas Hartingh.
Keduanya menemui untuk membahas langsung pada September 1754. Setelah membahas, dicapai kesepakatan bahwa Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah Kerajaan Pakubuwana III.
Sementara itu, Mangkubumi harus melepaskan daerah pesisir untuk disewakan kepada VOC seharga 20.000 real yang dibagi dua, yakni 10.000 real bagi Mangkubumi dan 10.000 real bagi Pakubuwana III. Pada tanggal 13 Februari 1755, perjanjian Giyanti ditandatangani, yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I.
Perjanjian Giyanti juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Mrangkubumi yang bergabung dengan Pakubuwana III dan VOC untuk menghilangkan kelompok Raden Mas Said.
Pertemuan antara Mangkubumi dengan VOC beserta Pakubuwana III membuka babak baru bagi pecahnya Kerajaan Mataram, menjadi dua kerajaan yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Setelah Perjanjian Giyanti ditandatangani, Kerajaan Mataram dibagi dua. Pakubuwana III tetap menjadi raja di Surakarta, sedangkan Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I menjadi raja di Yogyakarta.
April 1755, Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibukota kerajaan yang menjadi kekuasaannya. Sebelumnya, di hutan tersebut pernah ada pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan.
Alasannya, ibu kota baru kerajaan ini diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat atau disingkat Yogyakarta. Sejak 7 Oktober 1756, Hamengkubuwana I pindah dari Desa Banaran menuju Yogyakarta.
Raja Hamengkubuwana I menjabat sejak tanggal 13 Februari 1755 sampai akhir hayatnya, tanggal 24 Maret 1792. Jenazahnya dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri. Posisinya kemudian digantikan oleh putranya Gusti Raden Mas Sundara yang bergelar Hamengkubuwana II.
Itu adalah profil orang di balik Plengkung Gading yang kabarnya mau ditutup karena berbagai alasan. Semoga ada manfaatnya.